Jabatan PM Thailand Dibekukan, Ekonomi Negeri Gajah Putih Diambang Resesi

 Jabatan PM Thailand Dibekukan, Ekonomi Negeri Gajah Putih Diambang Resesi







Bandung, 02/06/2025
Thailand memasuki krisis politik yang mengancam perekonomian negara gajah putih.

Sebelum krisis politik yang berat ini, Thailand sebenarnya sudah diambang jurang resesi. Thailand menghadapi sejumlah banyak tantangan ekonomi berat, dampak berat perang dagang global Amerika Serikat versus China yang belum reda, dan sejumlah konflik ekonomi lokal yang krusial.

Mahkamah Konstitusi Thailand yang berwenang mengendalikan jabatan eksekutif, secara resmi menangguhkan jabatan Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra mulai 1 Juli 2025.

Penangguhan jabatan ini bersamaan dengan penyelidikan atas dugaan pelanggaran etika dalam sengketa diplomatik dengan Kamboja.

Usulan pembekuan jabatan PM ini oleh senator konservatif lawan pemerintah, yang menilai Paetongtarn bertindak tidak patut saat menangani perselisihan perbatasan. Konflik Thailand dan Kamboja yang telah berlangsung lama.

 Konflik yang memicu bentrokan pada Mei lalu menewaskan seorang tentara Kamboja.


Baca Juga : 

Jabatan PM Thailand Dibekukan, Ekonomi Negeri Gajah Putih Diambang Resesi

Dalam Hitungan Jam, Pemerintahan Thailand Dirombak Oleh Orang Bertato

 

Ketegangan politik di Thailand meningkat tajam, setelah rekaman percakapan telepon Paetongtarn dengan Presiden Senat Kamboja, Hun Sen, bocor ke publik.

Dalam percakapan itu, PM meminta penyelesaian damai dan menyarankan agar Hun Sen tidak mengindahkan pihak tertentu di Thailand, termasuk seorang jenderal militer.

Rekaman yang beredar luas tersebut memicu reaksi keras dari politisi dan masyarakat Thailand, meski Paetongtarn mengklaim ucapannya hanya bagian dari strategi negosiasi dan tidak mencerminkan konflik pemerintah dengan militer.

Dampak dari krisis politik tersebut dinilai berpotensi besar terhadap ekonomi Thailand.

Kebijakan penting tertunda, negosiasi tarif dengan Amerika Serikat (AS) bisa terganggu, dan kepercayaan investor ke aset-aset Thailand yang selama ini kurang menarik bisa makin goyah.

Kalau sampai pemerintahan benar-benar runtuh, padahal baru berjalan sekitar setahun, upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pun bisa kandas. Tahun lalu saja, ekonomi Thailand tumbuh lebih lambat dibanding negara tetangga ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Singapura.

Sebagai catatan, perdana menteri sebelumnya digulingkan lewat putusan pengadilan, dan ayah Paetongtarn, Thaksin Shinawatra pun pernah dijatuhkan lewat kudeta militer.

"Ketidakpastian politik yang tinggi dan mungkin berlangsung lama sekarang menjadi bayangan gelap bagi ekonomi yang memang sudah lemah," kata Vishnu Varathan dari Mizuho Bank, dilansir dari Bloomberg, Rabu (2/7/2025).

Vishnu menyarankan agar Bank Sentral Thailand mempertimbangkan pemangkasan suku bunga sebesar 50-75 basis poin.

"Dengan tingkat kepercayaan bisnis yang sudah loyo dan kondisi psikologis yang rapuh, mungkin memang perlu ada stimulus tambahan secepatnya," tambah Vishnu

Di sisi lain, penangguhan eksport Thailand akibat tarif tinggi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat,  juga makin mendekati tenggat waktunya. Kalau tarif itu diterapkan, maka seluruh rantai pasok global akan kacau, ekonomi dunia akan melambat. Ditambah, konflik Israel-Iran yang masih berpotensi menyebar bisa mengguncang Timur Tengah yang membuat harga minyak melonjak.

Krisis ini memperburuk kondisi ekonomi dalam negeri Thailand. Pemerintah masih kesulitan menurunkan utang rumah tangga dan mendorong belanja masyarakat. Sementara sektor pariwisata juga melemah akibat Covid 19 yang lalu.

Potensi tarif 36% dari AS untuk barang ekspor Thailand juga bisa menyeret turun kinerja perdagangan dan investasi. Bahkan, pemerintah Thailand sudah memangkas target pertumbuhan ekonomi 2025 dari sebelumnya menjadi hanya 1,3%-2,3%.

"Dalam skenario dasar kami, kami sudah memprediksi bahwa Thailand akan masuk resesi teknikal di paruh kedua tahun ini karena ekspor yang terus turun," kata Burin Adulwattana, kepala ekonom dari Kasikorn Research Center.

"Kalau sampai ada kekosongan kekuasaan, resesinya bisa lebih dalam," tambah Burin.

Sebagai catatan, resesi teknikal terjadi jika ekonomi menyusut dua kuartal berturut-turut, yang mana terakhir kali Thailand mengalami ini adalah saat pandemi COVID-19. Saat ini PDB Thailand hanya tumbuh 0,7% pada kuartal I 2025 dibanding kuartal sebelumnya.

Sekarang, semua mata tertuju ke kemungkinan Thailand mengalami kebuntuan politik yang bisa menghambat kebijakan penting, seperti negosiasi tarif dengan AS dan pengesahan anggaran 2026. Kalau belanja pemerintah terganggu, Bank Sentral mungkin harus turun tangan bantu mendorong pertumbuhan.

Saat ini, aset-aset Thailand sudah terdampak tekanan politik. Indeks saham utama turun ke level terendah sejak Maret 2020, dengan penurunan hampir 23% sejak awal tahun atau yang terburuk di antara pasar utama dunia.

Di lapangan kondisinya  jauh lebih rumit, para pendukung PM bergerak melakukan aksi balasan untuk membela PM dukungan mereka. Bangkok Memerah, Ribuan Pendukung Pheu Thai Bela Paetongtarn. Kondisi tidak stabil ini bisa sewaktu-waktu berubah menjadi chaos yang membahayakan (Vijay)

Lebih baru Lebih lama