Klasemen Sementara Porprov IX/2025 : Sidoarjo Sabet Posisi 2, Jika Nilai Sidoarjo Hari Ini dipasang di Klasemen Tanggal 27 Juni :))

 Klasemen Sementara Porprov IX/2025 : Sidoarjo Sabet Posisi 2, Jika Nilai Sidoarjo Hari Ini dipasang di Klasemen Tanggal 27 Juni :))

Klasemen 27 Juni yang lalu


Malang, 04/07/2025

Segala macam strategi digunakan untuk memenangkan pertandingan di Porprov Jatim IX/2025. Ada yang menggunakan strategi yang memang diijinkan digunakan. Tapi tak jarang bahkan saat ini menjadi jamak dilakukan, strategi culas dan curang juga digunakan. Asal bisa juara strategi apapun sah dan halal dilakukan 

Padahal semangat Vini, Vidi Vici, bukanlah menyangkut, semangat yang culas dan curang dalam pertandingan. Akan tetapi semangat yang terbuka dan sportif dalam pertandingan.

Bau strategi busuk di Porprov IX Jatim/2025 bahkan sudah dicium sejak lama oleh beberapa cabang olah raga di Jawa Timur. Pemunculan cabang-cabang olah raga baru yang diinisiasi oleh tuan rumah adalah salah satu strategi untuk memposisikan tuan rumah menjadi Runner up. Sebuah strategi agak culas yang bahkan sudah digunakan oleh tuan rumah sejak Porprov Jember yang lalu. 

Ketua KONI sebuah Kabupaten dalam sebuah rapat internal yang berhasil dikutip oleh Informatika News menyampaikan bahwa identitas kecurangan yang dilakukan oleh tuan rumah ini sudah dikenal sejak lama. Untuk memenangkan pertandingan cara apapun boleh. Ketua KONI tersebut mengatakan bahwa perjuangan untuk mempertahankan posisi pemenang bahkan masih harus dilakukan oleh official pertandingan di luar arena pertandingan.

" Apa-apaan ini ..event oleh raga prestasi dikotori dengan cara-cara koruptif yang memalukan..kita bisa memenangkan pertandingan bahkan harus berhadapan dengan trik trik tengil yang dilakukan oleh tuan rumah ini, bahkan sejak di masa Porprov di Jember..." Kata Ketua KONI tersebut direkam dengan baik oleh Informatika News Line.






" Bagaimana mungkin kita sudah diumumkan sebagai juara 3 bermotor tiba-tiba gelar juara nya dicabut begitu saja, setelah si juara dipanggil ke Podium..apa cara-cara seperti ini adalah cara yang lazim dalam sebuah pertandingan yang sportif.. ini terjadi di Porprov IX Jatim ini .." seorang Ketua Cabor mengatakan penyesalannya pada cara-cara tidak sportif dan menjatuhkan mental atlet seperti ini, akhir Juni yang lalu, kepada Informatika News Line.

" Kuda gurun sebesar itu kenapa dipertandingkan dengan kuda kuda lokal...apa tidak ada pengukuran tinggi kuda, sebelum lomba...ini bagaimana kuda di kelas atas bisa diijinkan masuk ke kelas yang lebih bawah...ya jelas menang kalau begitu..." Teriak salah satu atlet berkuda berang.

" Lha kan boleh saja itu dilakukan?..."

" Gak boleh lah ..kan sudah jelas-jelas ada aturan pertandingan...kuda harus diukur tinggi badannya dulu yang berbeda diposisikan di kelas yang berbeda... Kuda dengan jangkauan kaki lebih besar kenapa dipertandingkan dengan kuda lokal kecil dengan jangkauan kaki lebih pendek... Ini gimana ?..."

" Masak Kuda poni dilawankan dengan Kuda gurun... Benar benar membagongkan..."

" Ya suka suka panitia lah...kalau gak suka gak usah ikut saja sana..."

Protes tindakan tidak sportif ini bahkan disampaikan kepada Hakim KONi Jatim, dan bahkan sudah dilakukan persidangan KONI Jawa Timur di Surabaya.

Tidak perlu gila kemenangan dengan menggunakan pendekatan curang, culas, dan koruptif seperti itu. Porprov IX Jatim bukanlah ajang adu strategi politik busuk, atau ajang unjuk strategi koruptif tidak berguna.

Akan tetapi Porprov IX adalah ajang mencari atlet muda yang berprestasi untuk tampil di ajang Nasional bahkan internasional. Benar benar atlet yang berprestasi. Bukan karena strategi busuk dan memalukan seperti itu. Atau hanya atlet karbitan.

Sidoarjo sebagai Runner up Porprov VIII yang lalu, seharusnya ada di posisi kedua Jum at ini (4/07) , sehari sebelum penutupan PORPROV IX. Bukan di posisi ketiga seperti yang di tulis di laman KONI Jatim hari ini, Jum'at (4/07).

Cobalah susun kembali angka perolehan medali Sidoarjo hari ini dan letakkan posisi perolehan Sidoarjo pada tanggal 27 Juni yang lalu. Pasti Sidoarjo ada di posisi kedua, karena kota Malang pada tanggal 27 Juni itu baru mengumpulkan medali sebanyak 44 medali, sementara hari ini Kontingen Sidoarjo sudah mengumpulkan 67 medali emas. Banyak mana 67 medali emas dengan 44 medali emas ? Ya lebih banyak 67 medali emas lah ? 

"Lalu kenapa posisi Kontingen Sidoarjo ada di posisi ketiga bukan di posisi nomer dua ? "

"Yaelah... ya lihat dulu tanggalnya lah ... itu kan tanggal 27 Juni dan ini kan tanggal 4 Juli ...ya jelas beda..."

" Ya enggak lah ... gimana kalau medali yang tercatat di delay saja, sehingga jelas-jelas 67 medali emas lawan 44 medali emas ... di aplikasi klasemen posisi yang digantikan oleh hari itu tinggal dibuat delay saja dalam bahasa programming ...dan itu tidak lah susah ...anak SMK juga bisa melakukan trik seperti itu ..."

"Ya tidak seperti itu lah ... ini kan tidak menggunakan pendekatan seperti itu ? ini kan murni yang masuk sesuai hari ..."

"Apa benar begitu ?..."

"Apa tidak by design time dan by hal lainnya lagi ? Dalam dunia programming hal itu bisa saja dilakukan ..bukan kah begitu ?....Dalam realitasnya dunia IT begitu mudah dikelabuhi ....."


Mengapa pada hari ini posisi Malang dengan sejumlah medali nya di letakkan di posisi Runner up ? Pertimbangan apa yang dipakai ? Algoritma apa yang dipakai ? Apakah sistem pencantuman klasemen dari KONI Jatim ini memang legal sudah memiliki legal on line dari Kementerian Komunikasi Dan Digital? Sudah ada registrasi on line nya belum? Bagaimana analisis sistemnya ? Bagaimana dari sisi psikologi pertandingan? Apakah sudah ada analisis nya ? Atau itu semua tidak diperlukan. Yang penting menang saja.

"Lho kenapa emas kontingen kita belum masuk data di Klasemen KONI Jatim...jadinya posisi kita masih belum naik ..kapan informasi nya dimasukkan..loh tidak on line kah ? ...oh nunggu... formulir nya belum dikirim panitia....oh belum dimasukkan ? Lha kenapa...apa ? Apa harus bayar dulu ? ...bayar apa ?.." Kata salah satu Kontingan Kabupaten di Barat Jawa Timur itu beberapa hari yang lalu.

Para pecinta oleh raga semakin cerdas. Di berbagai cabang olah raga sudah terlihat dan terbaca jelas cara-cara culas dan memalukan seperti itu. Hanya untuk dapat meraih posisi juara, sampai berbuat culas dan tengil seperti itu. Jangan beranggapan bahwa kecurangan dan keculasan itu bisa berlalu begitu saja, tanpa jejak. Hampir 43 juta warga Jawa Timur mengawasi, itu kalau data jumlah penduduk itu benar. Apakah penduduk di tengah hutan Bojonegoro yang bahkan tidak punya NIK dan KTP itu sudah tercatat. Atau sejumlah warga yang berada di pucuk Gunung Penanggungan, atau Gunung Kawi. Apakah sudah yakin dengan jumlah itu ? Apakah tidak mungkin jumlah penduduk Provinsi Jawa Timur saat ini sudah 100 juta orang ?

Memalukan, apakah sebutan provinsi Jawa Timur, sebagai provinsi penuh trik korupsi, belum memuaskan juga ? Cara-cara koruptif bahkan dipraktekkan dengan memalukan di cabang olah raga, di ajang yang katanya bergengsi di Jawa Timur, mengerikan. Pasti bukan ulah official yang baik. Pasti ulah mereka yang memang tidak pernah punya harga diri. 

Meski kalah, akan tetapi tetap setia pada sportivitas.Bukankah jiwa kejujuran itu yang harus diangkat tinggi-tinggi, dijadikan pedoman ? Sportif, jujur, tidak koruptif, tidak curang. Mencari yang terbaik, dan legowo jika memang ada yang lebih baik dari yang terbaik.

Atau gak usah dilaksanakan lomba, tidak usah ada Porprov saja ? karena yang dicari adalah kemenangan, ya silahkan saja yang tergila-gila pada kemenangan, mengumumkan diri sebagai pemenang saja.

"Bukannya kita sedang mencari atlet yang berprestasi yang terbaik ? "

"Atlet yang terbaik ? Tapi tidak juara ? tidak menang ? karena kalah dengan strategi oknum juri, atau oknum panitia pertandingan ?"

Bubrah... semua tatanan menjadi bubrah, gara-gara niat jahat koruptif, dan ingin menang meski dengan tipu menipu. Tak ada lagi Vini Vidi Vici, karena Vini Vidi Vici itu sama dengan adigang, adigung, adiguna ?Benar-benar rumit, masalah korupsi yang bahkan akarnya menjulur ke semua lokasi, termasuk ke bidang olah raga ?..

Oh bukan korupsi ya ? Masih juga bisa menjawab lantang, meski hati nurani berbicara lantang menantang. Hati nurani ? Hati sudah mati ? ...Benar-benar rumit dan kompleks masalahnya.  

Padahal awalnya semua event olah raga itu memang didisain untuk memunculkan semangat sportif, berani mengakui kekalahan, jujur dan tidak licik, atau menggunakan strategi tipu menipu. (El Syarif)


















Lebih baru Lebih lama