Hutang Parah Kereta Cepat Whoosh, Mampu Membayar Atau Tidak ? KCIC Bayar Bunga Rp 2 Triliun per Tahun ke China

 Hutang Parah Kereta Cepat Whoosh, Mampu Membayar Atau Tidak ? KCIC Bayar Bunga Rp 2 Triliun per Tahun ke China





JAKARTA , 25/08/2025

Beban hutang proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) atau whoosh membengkak hingga 7,2 miliar US Dollar atau setara 116 triliun rupiah.

Sekitar 75% dari hutang KCJB, berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB) dengan bunga antara 3,5 % dan 4 % per tahun. 

Konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh PT KAI, harus membayar bunga sekitar Rp2 triliun setiap tahun.

Laporan keuangan PT KCIC menunjukkan beban pembayaran yang jumlahnya terus bertambah besar. Meskipun secara total, jumlah beban tersebut terlihat mengalami trend penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Beban keuangan pada semester pertama tahun 2025 masih menyentuh angka Rp1,6 triliun, yang membebani pemilik mayoritas saham, PT KAI.



Baca Juga ;
APBN Buat Bayar Utang Whoosh ? Purbaya Bilang Saya Belum Dihubungi Soal Itu

Menurut pengamat BUMN, Dr. Dian yang dihubungi oleh Informatika News Line, penurunan kerugian yang bergantung pada penjualan tiket penumpang belum menjadi solusi cepat saat ini. Meskipun dengan strategi penurunan harga tiket yang lebih terjangkau oleh publik dan mengandalkan volume penumpang belum diambil sepenuhnya solusi nya. 

Penurunan biaya tiket kemungkinan akan bisa menyerap biaya yang selama ini dibagi di mode transportasi Jakarta Bandung yang lain.

Data pergerakan penumpang Jakarta Bandung per hari yang dilansir oleh PT Jasa Marga mencapai hampir 1,7 juta penumpang per hari, sementara kemampuan serap KCJB hanya dikisaran 20 ribuan sehari.

Okupansi harian  Whoosh sebesar itu bahkan belum mencapai target yang mencapai 44 ribu penumpang sehari.

Pengolahan market sebesar 1,7 juta penumpang sehari masih gagal jauh dari prediksi yang sebelumnya diambil pada proses perencanaan awal.

Dalam situasi seperti ini, hampir tidak mungkin pendapatan dari tiket dapat menutup kewajiban pembayaran bunga hingga pokok utang.

“Jadi tidak mungkin juga pendapatan Whoosh dalam setahun itu bisa menutup itu. Sehingga memang di luar jangkauan PT KAI sebagai lead konsorsium,” kata Doktor Dian

Kecuali 1,7 juta penumpang tersebut berhasil diolah dengan marketing yang tepat.

Dengan mempertimbangkan kondisi ini, Dr. Dian mendukung tindakan yang diambil oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, yang sedang mengerjakan rencana untuk menyelamatkan utang KCJB. 

Beban PT KAI memang akan lebih ringan jika sebagian utang dapat diambil alih negara, yang memungkinkan perusahaan untuk mempertahankan posisinya sebagai operator kereta api nasional.

Akan tetapi Dr. Dian mengatakan bahwa penyehatan keuangan bukan satu-satunya pilihan. Kemampuan mengefektifkan marketing menarik penumpang harus ditingkatkan dengan jauh lebih serius lagi 

Karena menggunakan dana dari negara, menjadi kebiasaan upaya menembus penguasaan pasar dilakukan dengan ogah-ogahan. 

"Ini menjadi trend kerja-kerja BUMN yang memang harus diperbaiki..." Kata Doktor Dian.

Solusi lain adalah dengan melakukan pengembangan wilayah dan pemanfaatan aset yang terletak di sekitar jalur kereta cepat. Jika solusi ini berhasil diambil dan dikembangkan dengan tepat, maka akan menjadi peluang lain yang bisa diambil oleh  Whoosh.

“Pengembangan kawasan otomatis iya. Misalnya, WIKA sebagai bagian konsorsium sudah punya konsesi pengembangan TOD di Halim. Itu bisa dikembangkan menjadi properti, kawasan industri, atau pusat bisnis,” jelas Dr. Dian.

Dengan kata lain, KCJB memiliki potensi untuk menjadi lebih dari sekadar sarana transportasi. Rantai ekonomi baru dapat dimulai dengan kehadiran Whoosh, mulai dari pembangunan berorientasi transit (TOD), perusahaan properti, hingga kawasan industri yang terhubung langsung ke jaringan transportasi cepat.

Dalam rapat bersama DPR RI pekan lalu, Bobby Rasyidin, direktur utama PT KAI, juga mengatakan hal yang sama. 

Dia berpendapat bahwa KCIC sudah menjadi "bom waktu" yang perlu ditangani segera. Akibatnya, restrukturisasi utang dan portofolio proyek menjadi fokus utama yang saat ini diupayakan oleh Danantara.

“Kami dalami juga masalah KCIC, memang ini bom waktu. Kami akan koordinasi dengan Danantara untuk penyelesaian KCIC ini, selanjutnya untuk perbaikan dan restrukturisasi dari portofolio-portofolio yang ada,” kata Bobby.

Sekarang, proyek kereta cepat yang semula dianggap sebagai bukti modernisasi transportasi di Indonesia menghadapi masalah besar. 

Namun, selama konsorsium mampu memanfaatkan aset yang tersedia, bukan hanya mengandalkan tiket penumpang, ada kemungkinan besar mereka akan dapat menghindari tekanan.

Kereta cepat Whoosh berpeluang menjadi proyek yang tidak hanya mengeluarkan biaya, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi baru di daerah sekitarnya dengan dukungan dari strategi pengembangan kawasan dan Danantara.

Akan tetapi lagi-lagi, jangan sampai konsep baru yang menarik investasi baru justru membuat hutang bertambah besar. Membuat konsep sarana bisnis hanya dengan tujuan untuk menarik investasi dengan perhitungan yang ceroboh. Lagi lagi yang terjadi adalah hutang bertambah besar, sedangkan pendapatan masih gagal naik. 

Karenanya Doktor Dian lebih memilih menyasar peningkatan jumlah penumpang yang sebesar 1,7 juta orang per hari itu, dengan cara mengefektifkan kerja kerja marketing internal KCJB. Langkah seperti ini lebih aman dalam efisiensi investasi. Bekerja lebih keras, dari pada bermimpi mendapatkan modal investasi baru, yang ujung-ujungnya kembali menambah hutang yang tak mampu dibayar.


Laporan : Vijay





Lebih baru Lebih lama