Hotel Hilton Dibakar: Ketika Demokrasi Berselingkuh Dengan Politik Busuk

 Hotel Hilton Dibakar: Ketika Demokrasi Berselingkuh Dengan Politik Busuk

 

 

Bandung, Informatika News Line 

Hotel Hilton di Nepal baru saja diresmikan Juli 2024 yang lalu, dan baru beroperasi kurang dari 1,5 tahun. Hotel milik konglomerasi Amerika Serikat itu musnah begitu saja Rabu (10/09) yang lalu.

Konglomerasi Hilton yang didirikan sejak tahun 1919 itu mengalami pukulan berat di tengah antitese demokrasi di Katmandhu Nepal. Bersama dengan terbakarnya hotel itu, ada puluhan orang yang tewas (laporan terakhir:30 orang tewas), menyusul kemarahan "pasukan" berbendera tokoh film kartun dengan tema bendera One Piece.

Hotel Hilton sendiri didirikan pada tahun 1919 oleh Conrad Hilton. Dan berusia 100 tahun pada tahun 2019 yang lalu. Lebih dari 100 negara sudah dikuasai oleh Hotel Hilton. Akan tetapi yang mengejutkan Hotel mewah ini dibakar begitu saja di Nepal pada Rabu yang lalu.

Para pembakarnya tidak malu-malu mengatakan bahwa mereka bergerak karena terinspirasi oleh gerakan yang terjadi di Indonesia.

Di Indonesia sendiri, sejumlah bangunan DPRD, Pemerintah Daerah dan juga kantor layanan kepolisian dibakar, akan tetapi syukurlah Indonesia tetap dalam kondisi terkendali. Meskipun dalam catatan terakhir juga ada 10 orang lebih yang tewas.

Akan tetapi peristiwa di Nepal ini jauh lebih mengerikan. Gedung pemerintah, Istana Presiden, Gedung DPR dibakar, rumah rumah para pejabat negara dijarah massa.



Presiden dan Perdana Menteri hasil Pemilu dan proses demokrasi sipil di Nepal mengundurkan diri. Menteri Keuangan dianiaya, ditelanjangi, diceburkan ke sungai, demikian juga sejumlah anggota kementerian dan kepolisian juga digiring diceburkan ke sungai, dilempari batu, dan dipukuli.

Bukan itu saja. Senjata aparat keamanan direbut dan bahkan kepolisian negara dilucuti oleh masyarakat yang bergabung dalam demonstrasi besar-besaran. Polisi yang memahami kemarahan rakyat kemudian menyerahkan diri dan ikut bergabung bersama massa. Daripada membantai masyarakat luas. Polisi lebih memilih menyerah dan menghindari bentrok dengan massa yang besar. Polisi Nepal dengan cerdas bergabung dengan gelombang massa dan menolak menjadi antek antek pendukung korupsi yang dituduhkan oleh gelombang raksasa massa yang marah.

Nepal menjadi sebuah contoh negara yang proses politik nya gagal total. Sekaligus menjadi contoh bahwa praktek politik busuk pasti akan berhadapan dengan konstituen demokrasi yang luas.

 
Aktivis Muda Pelajar Nepal Mengarahkan Massa Untuk Menghapus Korupsi Di Nepal

 
  
Polisi Negara Nepal menyerah kepada demonstrasi massa

Politik itu bukanlah sebuah metode menipu rakyat, sebagai mana yang sering dipraktekkan selama ini. Politik itu adalah sebuah konsep etika tertinggi, poli etis. Politik itu dipenuhi kesantunan dan kebaikan hati, bukan keculasan dan kebusukan hati. Penuh etika dan seni hidup tertinggi.

Jika etika ditinggalkan dalam sebuah proses politik, maka politik pun berubah menjadi anarkis.

Sebuah perangkat yang dibuat untuk kebangkitan jiwa kesejahteraan dunia dan akhirat hanya menumbuhkan anarchi, anak haram yang bukan berwajah etika tertinggi, poli etis.


 


 

Bangunlah jiwa nya bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya

Adalah petikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lagu ini memberikan sebuah arahan politik, berupa kebangunan jiwa, bukan materialisme, akan tetapi jiwa. 

Bukan kebangkitan badan materialisme yang utama, akan tetapi kebangunan jiwa. Sebuah lagu kebangsaan yang sarat dengan nilai-nilai filosofis yang tinggi. Apakah jiwa itu ? Kenapa dia harus bangun, dimana kah dia ?

Estetis, etis logis yang membangun politik adalah aroma dari jiwa. Karena jiwa itu punya keharuman bau, maka dalam sebuah penyederhanaan kata-kata, dirumuskan dalam konsep politeia berupa estetis etis logis.

Plato pada saat menyampaikan konsep politeia, memahami benar konsep politik dalam negara demokrasi. Bukan sebuah sistem yang berazaskan tipu menipu, korupsi, KKN, pencurian, pembodohan rakyat, tapi sebuah konsep adiluhung yang jauh lebih tinggi nilai nya dari politik berbasis materialisme yang ternyata bertopeng kan Anarkis

Politik atau politeia Plato adalah sebuah konsep yang dibangun pada kerangka estetis, etis, dan logis. Bukan dalam kerangka materialisme sempit, Kolusi, KKN, strategi tipu tipu busuk, pencurian, korupsi, dan pembodohan.

Estetis, Etis Logis, unsur utama jiwa itu harus terbangun dan menjadi pilar penyangga Politik. Kalau aspek logis dianggap sebagai beban materialisme, sebagai mana diresumekan dalam kata-kata busuk ....guru adalah beban negara, ...misalnya, maka pilar pembentuk demokrasi pun runtuh dan pecah berkeping-keping.

Estetis adalah kehalusan Budi, bukan tontonan menari-nari di atas penderitaan rakyat, atau pamer kekayaan dan segebok film porno atau alat pemuas nafsu sex rendahan gaya binatang jalang. 

Karena manusia adalah insan tertinggi yang hidupnya sangat mulia, jauh dari upaya memuaskan nafsu birahi binatang jalang jalanan. Jika itu yang dipraktekkan dalam nilai estetika maka yang akan muncul adalah anarkisme. Jangan bertanya kenapa itu terjadi ? Akan tetapi Aristoteles Plato telah mengingatkan ribuan tahun yang lalu dalam konsep estetis etis logis nya.

Akan tetapi 3 unsur demokratis yang disampaikan hanyalah 3 dari 10 unsur utama yang pernah disampaikan oleh Plato untuk digunakan dalam membangun sebuah konsep Ummatan Wahidah dalam sebuah negara yang dipenuhi keragaman kompleks Bhinneka yang tunggal eka.

4 unsur materialisme memang menjadi dasar, akan tetapi konsep politik itu dibangun oleh 3 pilar di atas konsep 4 unsur materialisme dasar. 


 

Jadi politik itu ada di level di atas 4 pilar materialisme, 3 pilar estetis etis logis, yang memiliki 2 unsur perbatasan menuju ke puncak tertinggi, konsep Ummatan Wahidah, ketunggalan, keesaan, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebuah konsep yang dirangkum dalam makna Pancasila di negeri Republik ini.

4 Unsur materialisme dirangkum dalam Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Negeri (Indonesia), sementara 3 unsur estetis etis logis dirangkum dalam Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Perwakilan dan Sekaligus Persatuan Negeri (Indonesia). 


4 Unsur Dasar : Pembentuk materialisme bukan Poli Etics

3 Unsur Politik Platonian Aristoteles : Estetis Etis Logis

 

Sementara 2 Unsur habis gelap terbitlah terang, dirangkum dalam nilai Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab. Yang semua unsur tersebut sebenarnya meresumekan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dari sisi pandang egalitarian, Soekarno memandang konsep Ummatan Wahidah tersebut dalam kata kata sederhana yang terkenal gotong royong. Dua sudut pandang 10 unsur kebahagiaan Plato, sudut pandang Sisi egalitarian dan sisi hikmah sejati yang diajarkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Nilai demokrasi bukan lah nilai main main yang bisa sekehendak hati digunakan begitu saja. Akan tetapi nilai ini adalah, nilai sakral nilai suci, yang diajarkan oleh Ketuhanan Yang Maha Esa sendiri kepada manusia untuk membangun Kingdom Of Heaven, Ummatan Wahidah, Baldarun Thoyyibatun Wa Robbun Ghafur.


 


 

Sebuah nilai yang tinggi dan suci

Anarkisme yang muncul di depan mata harus segera disadari dalam konsep Politik sejati yang diajarkan oleh Plato Aristoteles, bukan diseret-seret lagi dalam politik praktis sesuai kepentingan syahwat dan hawa nafsu rendah para politisi busuk, para politisi palsu.

Mulut mu manis akan tetapi janjimu palsu. 

Sebuah konsep politi munafik. Mencampur adukkan antara nilai yang HAQ dengan Kemunafikan. 

Sisi kemunafikan yang tampil adalah indikasi tidak adanya kompetensi politik yang cukup. Mundur saja, dari pada mengundang anarki.

 
Menteri Anggota Kabinet, DPR Nepal dilempari batu, setelah didorong dengan penuh amarah ke dalam sungai

 


 

Karena jika tidak segera berhenti dan sadar, maka tontonan penghinaan pada para anggota kabinet dan Menteri Keuangan Nepal yang ditelanjangi itu bisa terjadi di negeri mana saja yang mencoba memilih demokrasi ala Barat, yang berakhir juga dengan pembakaran Hotel Hilton yang memilukan itu. Selamanya politik bukanlah mainan orang-orang iseng dalam mengambil suara rakyat. 

Politik adalah sebuah tanggung jawab di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Mereka yang cacat etika, tidak sopan, penipu, sok kuasa, haus kekuasaan, petentang petenteng, adigang, adigung, adiguno, sombong, mundur saja, atau akan berhadapan dengan putaran cakra penghancur, yang akan menagih unsur politik dari dalam jiwa bahkan dengan seluruh sisa kehidupan dan seluruh dunia yang hancur lebur. 

Segera sadar dan bertaubatlah, dan benahi estetis, etis, logis mu, perbaiki masyarakat bangsa dan negaramu, tutup erat-erat syahwah dan hawa nafsumu, buang jauh dan hiduplah seperti pertapa yang melayani rakyat dengan sepenuh hati...


Vijay








Lebih baru Lebih lama